Tuesday, January 27, 2009

Sajak Rendra dan Protes Sosialnya


WS Rendra 'Si Burung Merak'

“…..

Aku menyaksikan zaman berjalan kalangkabutan.
Aku melihat waktu melaju melanda masyarakatku.
Aku merindukan wajahmu,
dan aku melihat wajah-wajah berdarah para mahasiswa.
Kampus telah diserbu mobil berlapis baja.
Kata-kata telah dilawan dengan senjata.
Aku muak dengan gaya keamanan semacam ini.
Kenapa keamanan justru menciptakan ketakutan dan ketegangan
Sumber keamanan seharusnya hukum dan akal sehat.
Keamanan yang berdasarkan senjata dan kekuasaan adalah penindasan,

…………………….”

Pejambon, Jakarta, 28 April 1978
Pamphlet Cinta, WS Rendra

Sejak akhir-akhir ini saya gemar sekali membaca sajak-sajak nukilan Rendra, penyajak yang bijak menyatakan perasaannya terhadap bangsa Indonesia lewat sajak cinta. Rakaman-rakaman peristiwa yang dinukil oleh Rendra harus tidak dipandang enteng oleh semua yang cintakan kebebasan dan bahasa kemerdekaan individu.

Pemerintahan yang lemah adalah pemerintahan dibawah ketua yang penakut dan bodoh. Pemerintahan berani adalah pemerintahan yang yang diketuai oleh ketua yang berani dan bijak. Pemerintah bijak mahukan rakyatnya menjadi bijak bukan menjadi bodoh. Jika ada usaha pembodohan berlaku dalam sebuah pemerintahan maka dengan mudah kita dapat menilai kelayakan dan kekuatan sebuah kerajaan. Kerajaan itu adalah kerajaan yang jahil dan mandul.

Keamanan yang selalu disebut Mubarak ialah apabila polis berjaya menangkap sekumpulan pelajar yang melaksanakan demonstrasi aman. Ini diungkap oleh Rendra sebagai sebuah kempen pembodohan terhadap sivil. Sama juga dalam protesnya terhadap rajul amni Indonesia, protes itu diekspresi oleh beliau dengan kata muak. Mungkin Rendra sudah muak dengan pembodohan yang dilakukan Mas Harto.

Kita juga harus jadi seperti Rendra, kita juga mesti muak dengan ‘keamanan’ versi Mubarak, kita juga harus muak dengan gerak-geri rijal amni. Sfera ketakutan yang melanda diri mahasiswa di lembah Nil ini harus dibuang jauh-jauh. Hanya kroni-kroni Mubarak saja yang berpeluk dan menjilat-jilat ‘keamanan’ Mesir. Walhal, umum sudah tahu kezaliman polisi undang-undang darurat Mubarak. Lafaz protes Rendra adalah tazkirah untuk kita. Nasihat seorang biasa kepada orang biasa juga.

Janganlah menjadi kroni. Mencumbui ghairah kezaliman.


2 comments:

nakula sadewa said...

salam..WS Rendra mmg seorg pemuisi yg hebat..Mahmoud Darwish pun tidak kurangnya

ZAHID NASER said...

ya.. sedang mencari balada Darwish tentang Palestina, ma'arad perlu menunggu saya..